Sabtu, 22 Oktober 2011

Mutasi


Lama tidak menulis.., sibuk pekerjaan dan sibuk juga mutasi. Yah... mutasi bisa menyenangkan bisa tidak, tergantung perspektif kita. Mutasi itu capek, banyak energi yang dikeluarkan; begitu kata seorang teman yang bekerja di sebuah BUMN. Suatu malam, sebuah short message masuk “ yes.., alhamdulillah saya dimutasi bro” ..” barakallah”. Pada perspektif ini mutasi adalah sebuah hal yang menyenangkan. Apa lagi jika dimutasinya ke kampung halaman. So pasti sangat menyenangkan.
Bagi saya  mutasi adalah sebuah hal yang menyenangkan sekaligus menantang. Menyenangkan berarti saya akan masuk ke sebuah area geografis dan demografis baru. Dalam kurun waktu 3,5 tahun sudah 5 mutasi yang saya alami. Mulai dari mutasi ke Palembang, pekanbaru, balikpapan, Jakarta dan terakhir bandung. Sebelumnya rekor mutasi tercepat adalah dari cabang Palembang ke Pekanbaru, 6 bulan. Namun rekor itu dikalahkan oleh mutasi dari jakarta ke Bandung, 1 bulan. Artinya baru 1 bulan di Jakarta kemudian dimutasi ke Bandung.


Mutasi itu menyenangkan dan menantang. Menyenangkan artinya saya akan tinggal di Kota baru, culture baru,teman-teman baru dan yang penting ilmu baru. Indonesia itu warni-warni, hanya perjalanan 2 jam perjalanan, kita akan menemukan culture baru, bisa sedikit beda atau bahkan sangat kontras. Sampai dengan usia 24 tahun, baru dua budaya yang saya pahami; Jawa sebagai budaya asli saya dan sunda karena sejak kuliah, bekerja dan menikah saya berada dibandung. Saya bisa katakan Sunda adalah 2nd tribal saya. Karena saya mencintai budaya sunda, maka saya menikah dengan akhwat sunda..,
Setelah bekerja, setidaknya saya telah memahami budaya sumatera selatan, Melayu Riau, medan, minang, Balikpapan, banjar, makasar dan papua. Kesimpulannya adalah belajar menekan ego tribalisme dan membuka seluas-luasnya pintu toleransi, berinteraksi dengan budaya baru akan sangat menyenangkan. Ini yang kemudian saya sebut dengan mutasi itu menantang. Menantang karena kita akan merasakan shock culture. Contohnya.., saat ke palembang, serinng melihat seseorang menyerahkan sesuatu dengan tangan kiri, pemilik toko sebelah kantor juga biasa seperti itu. Terus terang saat kita mengukur kebiasaan tangan kiri dengan budaya Sunda atau jawa, jelas kita akan tersinggung. Tidak sopan. Tapi saatya kita mencoba menjadi orang palembang maka kita akan mengerti bahwa hal ini adalah biasa. Atau mungkin dengan kebiasaan orang Medan yang berbicara dengan nada keras dan blak-blakan, bagi saya bagus, kenapa ? karena saya suka orang yag berterus terang. 
Saya tertantang dengan satu mutasi lagi, mutasi ke luar negeri. Jika kantor perwakilan di Paris, Frankfurt, Tokyo, Singapuran dan Kualalumpur dibuka, siap deh saya dimutasi kesana. When..? just wait.

0 komentar:

Posting Komentar