Tidak tahu kenapa saya suka dengan lagu India ini, Kal Ho Na Ho. Terus terang saya kurang suka dengan lagu atau film India. Kagak nahan gayanya cing.., pokoknya ga bisa lihat pohon nganggur. Langsung joget. Terjemahan bebas Kal Ho Na Ho kurang lebih, may never come tomorrow. Bercerita tentang “ambil kesempatan itu”, karena besok mungkin tidak datang. Tapi lagu ini urusanya tentang cinta. But saya tidak akan bahas cinta. Saya suka lagi ini bukan karena liriknya, tapi lebih karena lagu ini menjadi teman saya selama perjalanan Samarinda – Balikpapan menyusuri jalur pantai via palaran, handil, samboja dan berakhir di balikpapan via Jl. Mulawarman.
Perjalanan sore menuju Balikpapan mengunjungi cabang Samarinda. Bosan dengan jalur biasa Balikpapan-Samarinda via bukit Suharto, saya ingin coba Jalur Lain. Jembatan Mahakam belok kiri via Palaran, Handil, samboja. Lets get lost, karena baru sekali melewati jalur tersebut.
Usai shalat ashar, bersiap meninggalkan Kantor Cabang Samarinda. Sore itu Samarinda diguyur hujan deras, dan bisa ditebak jalanan Samarinda segera berubah menjadi “selokan”. Menyusuri jalan protokol sepanjang Sungai Mahakam, jalanan digenangi oleh air hujan dan luapan air sungai mahakam. Macet. Selain karena genangan air, macet ini disebabkan oleh penyempitan jalur di jembatan Mahakam. Jadi akses keluar dan masuk Kota Samarinda adalah melalui jembatan ini memotong sungai mahakam yang membelah kota Samarinda. Sebenarnya pemerintah telah membangun satu lagi jembatan untuk mengurangi kemacetan, namun karena jaraknya cukup jauh dari pusat kota, maka jembatan menjadi kurang optimal. Akibatnya setiap pagi dan sore, macetlah diatas jembatan Mahakam.
Melintasi jembatan mahakam, lalu lalang tug boat menarika ratusan ton batu bara yang dikeruk dari perut bumi Kaltim. Inilah salah satu emas hitam yang membuat makmur Kaltim, walaupun sebenarnya kemakmuran belum milik semua orang di Kaltim. Selepas jembatan mahakam, kita belok kanan. Meninggalkan kota samarinda menuju palaran kita langsung disambut oleh jalan beraspal yang sudah berlubang. Kerusakan jalan di Kaltim cukup cepat, karena hampir setiap hari dilalui oleh truk-truk bertonase besar pengangkut batu bara. Kontur jalanan berkelok, menanjak dan menurun dan hanya dua jalur. Dibeberapa titik jalanan rusak parah, namun beberapa titik masih bagus dengan jalanan aspal dan beton.
Rasio rumah penduduk dan hutan relatif berimbang. Selain rumah penduduk dan hutan, sepanjang jalur ini kita akan menemukan beberapa areal tambang batu bara denga luas ratusan hektar. Kondisi jalan berbanding lurus dengan keberadaan tambang-tambang ini. Memasuki samboja jalanan lurus dengan kondisi aspal cukup bagus. Kita bisa memacu kecepatan mobil sampai dengan 100 km/jam.
Memasuki daerah Teritip artinya kita sudah dekat dengan Balikpapan. Perjalanan saya tempuh hampir 5 jam. Maklum salah perhitungan, perasaan sudah dekat balikpapan, ternyata saat melihat boardsign, ternyata balikpapan masih 115 Km lagi. Saatnya tancap gas, dan syahrukh khan masih menemani saya dalam mobil dengan Kal Ho Na Ho –nya.
Har ghadi badal rahi hai roop zindagi,
chhaaon hai kabhi kabhi hai dhoop zindagi,
har pal yahan jeebhar jiyo,
Joi sa ma ,
Kal Ho Na Ho
0 komentar:
Posting Komentar