Sabtu, 29 Oktober 2011

Demi Anak dan Istri


Sabtu ini, 29 Oktober, kantor acara outing pagi. BIP tempat outing kali ini. Di sela acara outing sempat ngobrol santai dengan seorang pengamen yang biasa mangkal di perempatan Merdeka arah Dago. Sebut saja namanya Asep, usia kurang lebih 29 tahun, sama dengan saya. Kang asep biasa mengamen di perempatan merdeka dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Selama pembicaraan, saya mencoba melompat dan masuk kedalam diri Kang Asep. Ada sisi lain yang saya temukan dalam dirinya, sebuah tanggung jawab. Dia bercerita bahwa anak pertamanya baru saja lahir. Dua perasaan bercampur, bahagia dan khawatir. Bahagia karena kehidupannya semakin lengkap dengan kehadiran sang bayi dan khawatir dengan “kehidupan” keluarga.

“saya harus lebih semangat kang ngamennya.., bayi saya baru saja lahir , malam minggu ini kelihatannya saya akan lembur, yah.. biar lebih banyak uang yang saya kumpulkan buat keluarga”.

Jumat, 28 Oktober 2011

Kal Ho Na Ho



Tidak tahu kenapa saya suka dengan lagu India ini, Kal Ho Na Ho. Terus terang saya kurang suka dengan lagu atau film India. Kagak nahan gayanya cing.., pokoknya ga bisa lihat pohon nganggur. Langsung joget. Terjemahan bebas Kal Ho Na Ho kurang lebih, may never come tomorrow. Bercerita tentang “ambil kesempatan itu”, karena besok mungkin tidak datang. Tapi lagu ini urusanya tentang cinta. But saya tidak akan bahas cinta. Saya suka lagi ini bukan karena liriknya, tapi lebih karena lagu ini menjadi teman saya selama perjalanan Samarinda – Balikpapan menyusuri jalur pantai via palaran, handil, samboja dan berakhir di balikpapan via Jl. Mulawarman.

Perjalanan sore menuju Balikpapan mengunjungi cabang Samarinda. Bosan dengan jalur biasa Balikpapan-Samarinda via bukit Suharto, saya ingin coba Jalur Lain. Jembatan Mahakam belok kiri via Palaran, Handil, samboja. Lets get lost, karena baru sekali melewati jalur tersebut.

Hujan

Ga ada ide buat nulis, tapi tetap maksa, harus nulis. Mumpung lagi tumben pulang kantor jam 5 yang biasanya pulang jam 8 malam. Oke deh sambil ditemani Sundial Dreams bu Kevin Kern mari kita bicara tentang hujan.
Sore ini Kota Bandung semakin sejuk, sejak pukul 4 hujan mulai membasahi kota Bandung yang mulai panas. Kemarau kali ini memang luar biasa, bandung saja panas apa lagi Jakarta. Bersyukur deh bisa mutasi lagi ke Bandung.

Dalam tiap ruang, hujan punya makna. Dalam ruang Islam, hujan adalah rahmat dan berkah bagi umat-Nya. Hujan juga menjadi salah satu waktu doa akan diijabah oleh Allah swt. Dalam ruang pelajaran IPA SD, hujan adalah proses siklus, dimana terjadi penguapan air laut oleh panas matahari, selanjutnya berubah menjadi awan dan menjadi titik-titik air yang jatuh kebumi dan hujanlan bumi. Dalam ruang seseorang yang sedang putus cinta, hujan adalah saat paling tepat untuk mengingat cerita dengan si dia, rasanya mirip rujak bebek kali ya, ada sakit hati, ada sedih, ada nyesel, terbang deh pokonya hayalan. Tapi kasihan, “disebrang sana” si dia sudah ga ingat sama sekali.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Mutasi


Lama tidak menulis.., sibuk pekerjaan dan sibuk juga mutasi. Yah... mutasi bisa menyenangkan bisa tidak, tergantung perspektif kita. Mutasi itu capek, banyak energi yang dikeluarkan; begitu kata seorang teman yang bekerja di sebuah BUMN. Suatu malam, sebuah short message masuk “ yes.., alhamdulillah saya dimutasi bro” ..” barakallah”. Pada perspektif ini mutasi adalah sebuah hal yang menyenangkan. Apa lagi jika dimutasinya ke kampung halaman. So pasti sangat menyenangkan.
Bagi saya  mutasi adalah sebuah hal yang menyenangkan sekaligus menantang. Menyenangkan berarti saya akan masuk ke sebuah area geografis dan demografis baru. Dalam kurun waktu 3,5 tahun sudah 5 mutasi yang saya alami. Mulai dari mutasi ke Palembang, pekanbaru, balikpapan, Jakarta dan terakhir bandung. Sebelumnya rekor mutasi tercepat adalah dari cabang Palembang ke Pekanbaru, 6 bulan. Namun rekor itu dikalahkan oleh mutasi dari jakarta ke Bandung, 1 bulan. Artinya baru 1 bulan di Jakarta kemudian dimutasi ke Bandung.